♥♥●•٠·˙♥ Jerat Baru Bernama Hubungan Tanpa Status Bag I ♥˙·٠•●♥♥
(¯`*•.¸(¯`*•.(¯`*•.¸_..ƸӜƷ.._¸.•*´¯).•*´¯)¸.•*´¯)
Notes ini di relist bada mendengar penuturan seorang kawan, sahabat, sekaligus saudara seiman di waroeng 45 pk.20.00-pk 22.00.
Semoga Alloh melimpahkan ketabahan,kedewasaan dan hati yang lapang. Saya ingin bicara sebagai seorang muslimah kepada saudara perempuannya (jika boleh dikatakkan demikian).
Di sebuah kampus yang rindang dua mahasiswa, lelaki dan perempuan, berjalan bersebelahan. Mereka tampaknya sibuk berdiskusi hingga tak mempedulikan orang lain di sekitarnya. Kecuali satu dua sapaan ringan atau lambaian tangan pada beberapa kenalan yangd di temuinya di tengah jalan. Kemudian lihatlah, ada juga tawa yang terdengar menyela pembicaraan mereka. Menyemburat keceriaan dan binary bahagia di kedua mata sang maha siswa. Hingga mereka tiba di masjid kampus sang lelaki menyerahkan setumpuk buku yang sejak tadi dipegang olehnya. Milik sang perempuan rupanya, yang dia bantu membawakan di sepanjang perjalannan mereka..”jangan lupa, rapat dimulai jam satu teng lho.” Sang lelaki bersuara sebelum melangkah ke tempat wudhu khusus pria.
“oke, aku juga sudah minta yang lain dating tepat waktu, tau deh udah pada ngumpul belum ya?”
“ya udah,habis sholat ketemuan disini lagi ya. See you.”
“oke deh, see you too.”
***
Sepasang mahasiswa lelaki dan perempuan, naik dalam bus yang sama, dengan jurusan yang sama Malang, dan duduk di satu kursi yang sama (bersebelahan). Sesekali mereka berbicara bisnis, sesekali berbicara tentang dakwah mereka masing-masing, sesekali juga terdengar tawa di antara pembicaraan mereka berdua. Setelah nyampai malang mereka berdua ternyata menginap di rumah paman sang lelaki, setelah dua hari merekapun balik ke Surabaya dan pulang ke rumah masing-masing, ternyata mereka berdua adalah skedar patner dalam bisnis.
Bagi kebanyakan orang, dua episode di atas sama skali tak membuahkan sebuah keheranan. Umum banget gitu lho. Mudah di temui dimana-mana, dan kejadiannya pun biasa-biasa saja. Lelaki dan perempuanjalan bareng berduaan di tengah siang yang benderang, di jalan kampus yangbanyak orang. Atau dua orang lelaki dan perempuan naik bus berdua yang satu berkerudung yang lelaki berjenggot duduk di kursi yang sama pastilah orang-orang di sekitarnya berfikir positif dan mengira bahwa mereka suami istri yang sholeh. So, what’s the problem?? Ada masalah apa sih??
Itulah masalahnya, begitu longgarnya arti kebebasan di gaungkan di tengah masyarakat pada beberapa waktu terakhir, telah memunculkan fenomena baru dikalangan kaum mudaaktivis dakwah. Saat mereka secara perlahan namun pasti terbelit dalam jerat pergaulan baru bernama HTS alias Hubungan Tanpa Status.
Mengaku nggak pacaran, tapi…..
Ketika seruan dakwah tengah marak kebangkitannya di era 80-an, legalisasi pacaran yang banyak melanda kaum muda, sedikit demi sedikit terhapus. Jilbab menjadi pakaian yang mulai di terima masyarakat secara terbuka dan pernikahan dini tak lagi di anggap tabu. Tahun demi tahun yang berlalu menunjukkan geliat dakwah yang semakin terbuka dan meluas. Area pendidikan, social, budaya, ekonomi hingga politik tak lepas dari sentuhan dakwah. SDIT bermunculan, nasyid di dendangkan. BANK syari’ah meraup sukses, dan azaz islam kembali di usung, banyak lembaga. Namun bagaimana dengan para kader dakwahnya???
Hubungan tanpa status adalah fenomena pergaulan baru yang mewabah hingga menyentuh anak-anak muda kader dakwah. Mengaku tidak pacaran, tetapi kerap berdekatan, secara fisik dan emosi. Dalam rapat organisasi, dalam kegiatan kuliah, hingga aktivitas-aktivitas berlabel dakwah itu sendiri. Jalannya??? Ya bisa macam-macam. Pertemuan-pertemuan tak disengaja, keperluan-keperluan yang terencana, telepon, sms, email, hingga chatting untuk bermacam urusan mulai dari yang penting hingga mengarah pada curhat soal pribadi. Makanya, meski tanpa ikrar maupun janji yang pasti, bisa dikatakkan setiap orang tahu. Siapa ‘punya’ siapa atau siapa ‘ngetek’ siapa.
Dari mata turun ke hati…..
Adab pergaulan yang di jabarkan dalam banyak ayat qur’an dan hadist sesungguhnya merupakan pagar berlapis yang bisa membantu umat islam untuk tidak terjerembab dalam perzinahan.
“Ktika disebut laa taqrabu, tentu dibutuhkan ada jarak dan lapisan-lapisan sehingga yang satu roboh masih ada penghalang lain. Meski demikian tetap tak boleh di diamkan bila sudah ada satu lapisan yang roboh, karena bisa menghilangkan sensitivitas manusia pada dosa. Atau yang tidak biasa lama-lama jadi terbiasa.
Lapis demi lapis pagar pergaulan antar lawan jenis ini diantaranya adalah perintah untuk menundukkan pandangan, menutup aurot dengan sempurna, menjaga lisan dari suara yang mendayu-dayu, tidak berdua-duaan, tidak bercampur baur, antara pria dan wanita, hingga bersentuhan. “Karena ini perintah dari Alloh dan rasulNYA, makahukumnya menjadi wajib untuk di taati.” Dan apabila menilik pada lapis demi lapis pagar pergaulan ini, jelas sudah tak ada tempat bagi kemungkinan melakukan pacaran di dalamnya.
Persoalannya, bagaimana dengan gejolak nafsu yang memang membuncah terkait dengan perkembangan hormone seksual para aktivis muda ini?? Tentunya rasa suka dan ketertarikan ini tak perlu di bunuh. Sebab siapa sih yang bisa membunuh perasaan?? Perasaan ini dapat diredam, dan perilakunya tentu dapat dikendalikan dalam bingkai nilai yang benar. Kita dapat ambil contoh kesukaan Ali pada Fatimah sebenarnya telah ada sejak jauh hari namun dapat di redamnya dalam-dalam hingga hanya dirinya, Alloh dan RasulNYA saja yang mengetahui. Rasul tidak melarang ketertarikan Ali pada Fatimah, namun Ali sendirilah yang mengendalikan dirinya hingga ketika tiba saatnya yang di alakukan adalah melamar Fatimah menjadi istrinya.
Masalahnya dengan pola asuh dan pola didik masa kini banyak anak muda yang paham betul terlarangnya pacaran, benar-benar tak mampu menikah namun sulit menahan gejolak ketertarikkannya pada lawan jenis. Akibatnya mereka memilih hubungan tanpa status. Mereka ‘punya rasa’ satu sama lain, namun sedapat mungkin berupaya tidak melanggar adab-adab bergaul yang kadang berhasil kadang tidak. Pergi berama-ramai missal bertiga atau empat pasang, barengan dalam satu kegiatan, tidak bersentuhan, atau memilih tempat-tempat umum, dan terbuka bila ada keperluan untuk ‘berduaan’. Di samping telepon, sms, hingga email yang bersambungan dengan alas an keperluan organisasi atau curhat. Itulah rasionalisasi upaya membenarkan suatu tidakkan yang tidak sesuai dengan norma dakwah ini.
Secara harfiah kondisi HTS mungkin tak begitu Nampak melanggar aturan hingga sulit di hukumi, namun dampak HTS ini pastilah ada apalagi secara pribadi yang bersangkutan pasti merasakan ada sesuatu di dalam hubungan mereka berdua, meski di labeli tanpa status skalipun. Karena HTS ini bermain di tataran perasaan, akan ada luka atau fitnah bila kemudian hubungan tak berlanjut. Bahkan yang berlanjutpun bukannya tak akan memunculkan fitnah karena banyak yang membicarakan. Belum lagi bila kita mengingat kuatnya tipu daya setan yang pastinya akan mendorong pelaku HTS lebih berani melangkah melanggar aturan. Dikuatkan dengan nafsu dan kipasan-kipasan lingkungan, kloplah pelaku HTS memasuki gerbang pacaran, bersentuhan, hingga tak mungkin perzinahan, naudzubillah.
Karena itu mengharap anak-anak muda ini sadar sendiripun berat. Perlu ada penguatan korelasi diantara orang tua dan anak, murobbi dan mutarobbi. Serta kontroling orang tua dan murobbi terhadap lingkungan pergaulan si pemuda. Melihat fenomena HTS dikalangan para aktivis dakwah sebagai sebuah PR bagi para orang tua dan murobbi untuk memikirkan kondisi pergaulan masa kini. Pelakunya memang individu, tetapi perilaku mereka juga sangat di pengaruhi kebijakan-kebijakkan system itu sendiri. Karena itu dengan control yang di imbangi dengan solusi taktis yang jelas kita berharap bisa meminimalisasi rasionalisasi-rasionalisasi dari si pelaku untuk berlarut-larut terbuai dalam hubungan tanpa status.
NB : - Ada yang patut kita renungkan pada aktifitas kita….. ”Sudahkah seirama dengan kehendakNYA???”
- PR kita masih banyak, jangan mudah jatuh di jalan dakwah, jadilah ikhwan&akhwat dambaan umat