Senin, 25 Juli 2011

♥♥●•٠·˙♥ Jerat Baru Bernama Hubungan Tanpa Status Bag I ♥˙·٠•●♥♥ (¯`*•.¸(¯`*•.(¯`*•.¸_..ƸӜƷ.._¸.•*´¯).•*´¯)¸.•*´¯)

0 komentar

♥♥●٠·˙♥ Jerat Baru Bernama Hubungan Tanpa Status Bag I ˙·٠•●♥♥
(¯`*•.¸(¯`*•.(¯`*•.¸_..
ƸӜƷ.._¸.•*´¯).•*´¯)¸.•*´¯)

Notes ini di relist bada mendengar penuturan seorang kawan, sahabat, sekaligus saudara seiman di waroeng 45 pk.20.00-pk 22.00.

Semoga Alloh melimpahkan ketabahan,kedewasaan dan hati yang lapang. Saya ingin bicara sebagai seorang muslimah kepada saudara perempuannya (jika boleh dikatakkan demikian).

Di sebuah kampus yang rindang dua mahasiswa, lelaki dan perempuan, berjalan bersebelahan. Mereka tampaknya sibuk berdiskusi hingga tak mempedulikan orang lain di sekitarnya. Kecuali satu dua sapaan ringan atau lambaian tangan pada beberapa kenalan yangd di temuinya di tengah jalan. Kemudian lihatlah, ada juga tawa yang terdengar menyela pembicaraan mereka. Menyemburat keceriaan dan binary bahagia di kedua mata sang maha siswa. Hingga mereka tiba di masjid kampus sang lelaki menyerahkan setumpuk buku yang sejak tadi dipegang olehnya. Milik sang perempuan rupanya, yang dia bantu membawakan di sepanjang perjalannan mereka..”jangan lupa, rapat dimulai jam satu teng lho.” Sang lelaki bersuara sebelum melangkah ke tempat wudhu khusus pria.

“oke, aku juga sudah minta yang lain dating tepat waktu, tau deh udah pada ngumpul belum ya?”

“ya udah,habis sholat ketemuan disini lagi ya. See you.”

“oke deh, see you too.”

***

Sepasang mahasiswa lelaki dan perempuan, naik dalam bus yang sama, dengan jurusan yang sama Malang, dan duduk di satu kursi yang sama (bersebelahan). Sesekali mereka berbicara bisnis, sesekali berbicara tentang dakwah mereka masing-masing, sesekali juga terdengar tawa di antara pembicaraan mereka berdua. Setelah nyampai malang mereka berdua ternyata menginap di rumah paman sang lelaki, setelah dua hari merekapun balik ke Surabaya dan pulang ke rumah masing-masing, ternyata mereka berdua adalah skedar patner dalam bisnis.

Bagi kebanyakan orang, dua episode di atas sama skali tak membuahkan sebuah keheranan. Umum banget gitu lho. Mudah di temui dimana-mana, dan kejadiannya pun biasa-biasa saja. Lelaki dan perempuanjalan bareng berduaan di tengah siang yang benderang, di jalan kampus yangbanyak orang. Atau dua orang lelaki dan perempuan naik bus berdua yang satu berkerudung yang lelaki berjenggot duduk di kursi yang sama pastilah orang-orang di sekitarnya berfikir positif dan mengira bahwa mereka suami istri yang sholeh. So, what’s the problem?? Ada masalah apa sih??

Itulah masalahnya, begitu longgarnya arti kebebasan di gaungkan di tengah masyarakat pada beberapa waktu terakhir, telah memunculkan fenomena baru dikalangan kaum mudaaktivis dakwah. Saat mereka secara perlahan namun pasti terbelit dalam jerat pergaulan baru bernama HTS alias Hubungan Tanpa Status.

Mengaku nggak pacaran, tapi…..

Ketika seruan dakwah tengah marak kebangkitannya di era 80-an, legalisasi pacaran yang banyak melanda kaum muda, sedikit demi sedikit terhapus. Jilbab menjadi pakaian yang mulai di terima masyarakat secara terbuka dan pernikahan dini tak lagi di anggap tabu. Tahun demi tahun yang berlalu menunjukkan geliat dakwah yang semakin terbuka dan meluas. Area pendidikan, social, budaya, ekonomi hingga politik tak lepas dari sentuhan dakwah. SDIT bermunculan, nasyid di dendangkan. BANK syari’ah meraup sukses, dan azaz islam kembali di usung, banyak lembaga. Namun bagaimana dengan para kader dakwahnya???

Hubungan tanpa status adalah fenomena pergaulan baru yang mewabah hingga menyentuh anak-anak muda kader dakwah. Mengaku tidak pacaran, tetapi kerap berdekatan, secara fisik dan emosi. Dalam rapat organisasi, dalam kegiatan kuliah, hingga aktivitas-aktivitas berlabel dakwah itu sendiri. Jalannya??? Ya bisa macam-macam. Pertemuan-pertemuan tak disengaja, keperluan-keperluan yang terencana, telepon, sms, email, hingga chatting untuk bermacam urusan mulai dari yang penting hingga mengarah pada curhat soal pribadi. Makanya, meski tanpa ikrar maupun janji yang pasti, bisa dikatakkan setiap orang tahu. Siapa ‘punya’ siapa atau siapa ‘ngetek’ siapa.

Dari mata turun ke hati…..

Adab pergaulan yang di jabarkan dalam banyak ayat qur’an dan hadist sesungguhnya merupakan pagar berlapis yang bisa membantu umat islam untuk tidak terjerembab dalam perzinahan.

“Ktika disebut laa taqrabu, tentu dibutuhkan ada jarak dan lapisan-lapisan sehingga yang satu roboh masih ada penghalang lain. Meski demikian tetap tak boleh di diamkan bila sudah ada satu lapisan yang roboh, karena bisa menghilangkan sensitivitas manusia pada dosa. Atau yang tidak biasa lama-lama jadi terbiasa.

Lapis demi lapis pagar pergaulan antar lawan jenis ini diantaranya adalah perintah untuk menundukkan pandangan, menutup aurot dengan sempurna, menjaga lisan dari suara yang mendayu-dayu, tidak berdua-duaan, tidak bercampur baur, antara pria dan wanita, hingga bersentuhan. “Karena ini perintah dari Alloh dan rasulNYA, makahukumnya menjadi wajib untuk di taati.” Dan apabila menilik pada lapis demi lapis pagar pergaulan ini, jelas sudah tak ada tempat bagi kemungkinan melakukan pacaran di dalamnya.

Persoalannya, bagaimana dengan gejolak nafsu yang memang membuncah terkait dengan perkembangan hormone seksual para aktivis muda ini?? Tentunya rasa suka dan ketertarikan ini tak perlu di bunuh. Sebab siapa sih yang bisa membunuh perasaan?? Perasaan ini dapat diredam, dan perilakunya tentu dapat dikendalikan dalam bingkai nilai yang benar. Kita dapat ambil contoh kesukaan Ali pada Fatimah sebenarnya telah ada sejak jauh hari namun dapat di redamnya dalam-dalam hingga hanya dirinya, Alloh dan RasulNYA saja yang mengetahui. Rasul tidak melarang ketertarikan Ali pada Fatimah, namun Ali sendirilah yang mengendalikan dirinya hingga ketika tiba saatnya yang di alakukan adalah melamar Fatimah menjadi istrinya.

Masalahnya dengan pola asuh dan pola didik masa kini banyak anak muda yang paham betul terlarangnya pacaran, benar-benar tak mampu menikah namun sulit menahan gejolak ketertarikkannya pada lawan jenis. Akibatnya mereka memilih hubungan tanpa status. Mereka ‘punya rasa’ satu sama lain, namun sedapat mungkin berupaya tidak melanggar adab-adab bergaul yang kadang berhasil kadang tidak. Pergi berama-ramai missal bertiga atau empat pasang, barengan dalam satu kegiatan, tidak bersentuhan, atau memilih tempat-tempat umum, dan terbuka bila ada keperluan untuk ‘berduaan’. Di samping telepon, sms, hingga email yang bersambungan dengan alas an keperluan organisasi atau curhat. Itulah rasionalisasi upaya membenarkan suatu tidakkan yang tidak sesuai dengan norma dakwah ini.

Secara harfiah kondisi HTS mungkin tak begitu Nampak melanggar aturan hingga sulit di hukumi, namun dampak HTS ini pastilah ada apalagi secara pribadi yang bersangkutan pasti merasakan ada sesuatu di dalam hubungan mereka berdua, meski di labeli tanpa status skalipun. Karena HTS ini bermain di tataran perasaan, akan ada luka atau fitnah bila kemudian hubungan tak berlanjut. Bahkan yang berlanjutpun bukannya tak akan memunculkan fitnah karena banyak yang membicarakan. Belum lagi bila kita mengingat kuatnya tipu daya setan yang pastinya akan mendorong pelaku HTS lebih berani melangkah melanggar aturan. Dikuatkan dengan nafsu dan kipasan-kipasan lingkungan, kloplah pelaku HTS memasuki gerbang pacaran, bersentuhan, hingga tak mungkin perzinahan, naudzubillah.

Karena itu mengharap anak-anak muda ini sadar sendiripun berat. Perlu ada penguatan korelasi diantara orang tua dan anak, murobbi dan mutarobbi. Serta kontroling orang tua dan murobbi terhadap lingkungan pergaulan si pemuda. Melihat fenomena HTS dikalangan para aktivis dakwah sebagai sebuah PR bagi para orang tua dan murobbi untuk memikirkan kondisi pergaulan masa kini. Pelakunya memang individu, tetapi perilaku mereka juga sangat di pengaruhi kebijakan-kebijakkan system itu sendiri. Karena itu dengan control yang di imbangi dengan solusi taktis yang jelas kita berharap bisa meminimalisasi rasionalisasi-rasionalisasi dari si pelaku untuk berlarut-larut terbuai dalam hubungan tanpa status.

NB : - Ada yang patut kita renungkan pada aktifitas kita….. ”Sudahkah seirama dengan kehendakNYA???”

- PR kita masih banyak, jangan mudah jatuh di jalan dakwah, jadilah ikhwan&akhwat dambaan umat

♥♥●٠·˙♥ Semoga Bermanfaat ˙·٠•●♥♥
(¯`*•.¸(¯`*•.(¯`*•.¸_..
ƸӜƷ.._¸.•*´¯).•*´¯)¸.•*´¯)

Antara Kebenaran dan “Pembenaran”

0 komentar

Semua anak Adam selalu menginginkan terjadinya hal-hal yang benar, selalu ingin perilaku dan tindak tanduknya dinilai benar, selalu berharap orang lain memberikan kepadanya hal-hal yang benar…. Tetapi ternyata….. Ternyata hal-hal yang dianggap benar, atau dinilai benar tidak semuanya berdasarkan pada Kebenaran. Terkadang hal-hal yang terlihat atau tampak benar sebenarnya hanyalah berdasarkan pembenaran semata. Tidak semua kesalahan sulit dibungkus dengan retorika pembenaran. Tidak semua hawa nafsu telanjang tanpa pakaian pembenaran. Tidak semua kepalsuan terlihat apa adanya.

Ada jarak yang jauh antara kebenaran dengan (yang sekedar) pembenaran. Karena:

Kebenaran bersumber dari Allah, sedangkan pembenaran bersumber dari hati yang sakit.

Allah berfirman tentang kebenaran:

147. kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu. (al-Baqarah: 147)

Sementara tentang pembenaran Allah berfirman:

10. dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

11. dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (al-Baqarah: 10-11)

Kebenaran menenteramkan hati, sementara pembenaran hanyalah membuat hati guncang dan ragu.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits diriwayatkan dari Wabishoh bin Ma’bad:

جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ؟ قُلْتُ نَعَمْ فَجَمَعَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهَا فِي صَدْرِي وَيَقُولُ يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ نَفْسَكَ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي الْقَلْبِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ رواه أحمد

“Engkau bertanya kepadaku tentang kebaikan dan dosa.” Wabishoh menjawab, “Iya wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah mengumpulkan tiga jarinya dan menusukkannya ke dada Wabishoh, dan bersabda, ” Wahai Wabishoh, tanyalah hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan jiwamu tenteram. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di hatimu dan mengguncang dadamu, meskipun orang-orang sudah memberimu jawaban. (HR Ahmad juz 37 hal. 438 no. 17315)

Kebenaran bertahan lama, sementara pembenaran cepat atau lambat akan tersingkap kepalsuannya.

17. Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (ar-Ra’du: 17)

Kebenaran melahirkan kebaikan, sedangkan pembenaran melahirkan kerusakan.

Tentang akibat masyarakat yang menegakkan kebenaran Allah berfirman,

96. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-A’raf: 96)

Tentang masyarakat yang didominasi oleh dosa Allah berfirman,

41. telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(ar-Rum: 41)

Kebenaran terkadang kurang populer, sedangkan pembenaran selalu mengandalkan popularitas.

Allah berfirman:

116. dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga. (al-An’am: 116)

Sedangkan tentang orang-orang munafiq Allah menceritakan bagaimana mereka memakai sumpah palsu untuk mendapatkan popularitas, Allah berfirman,

62. mereka (orang-orang munafiq) bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, Padahal Allah dan Rasul-Nya Itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. (at-Taubah: 62)

Allah juga berfirman

204. dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras. (Al-Baqarah: 204)

Kebenaran adalah sesuatu yang diperjuangkan orang mukmin, sementara pembenaran adalah hal selalu dipakai oleh orang munafik.

Nabi Syu’aib a.s. mengatakan

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Hud: 88)

Nabi Syu’aib ketika mengatakan kebaikan, dia dalam posisi memperjuangkan kebenaran yang kadang tidak mendatangkan keuntungan untuknya.

Sedangkan pengguna topeng pembenaran menggunakan retorika untuk membela kepentingan dan mempertahankan zona amannya.

62. Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.

63. mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasehat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (an-Nisa’: 62-63)

Pencari kebenaran selalu mengintrospeksi dirinya, sedangkan pengguna pembenaran selalu menutupi cacatnya.

Rasulullah bersabda,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ رواه الترمذي وابن ماجه

“Orang yang pandai adalah yang mengekang jiwanya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang lemah adalah yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan banyak berangan-angan terhadap Allah. (HR at-Turmudzi dan Ibnu Majah)

Kebenaran terkadang pahit dan tidak sesuai dengan hawa nafsu sedangkan pembenaran selalu mengikuti hawa nafsu.

Rasulullah SAW bersabda,

حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ رواه البخاري ومسلم واللفظ له

“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Kebenaranlah yang pada akhirnya bermanfaat di akhirat, sedangkan pembenaran hanya akan mempersulit hisab seseorang.

13. pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.

14. bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,

15. meskipun Dia mengemukakan alasan-alasannya. (al-Qiyamah: 13-15)

Semoga Allah memberi petunjuk dan kekuatan pada kita semua untuk mengetahui dan mengikuti kebenaran di mana pun dan kapan pun. Amiin. Allahu a’lam

~*~*~* WANITA SUCI ~*~*~*~

0 komentar
Wanita suci

Mungkin aku tak romantis, tapi siapa peduli? Tapi toh kau tak mengenalku dan memang itu tak perlu. Bagiku kau bukan bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga-bunga terindah dan terharum sekalipun. Bagiku manusia adalah mahluk terindah, tersempurna, dan tertinggi. Bagiku dirimu salah satu manusia terindah, tersempurna, dan tertinggi, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.

Wanita suci

Jangan pernah kau biarkan ku menatapmu penuh, karena itu akan membuatku mengingatmu. Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu, berimpas dari tersusunnya gambarmu dalam dinding khayalku yang membuatku inginkanmu, sepenuh hati, sepenuh jiwa, sesemangat mentari. Kasihani dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh dengan Lumpur. Dirimu terlalu suci.

Wanita suci

Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung, ada keinginan tapi tiada henti menyentuhmu merupakan ingin diri. Berkelebat selalu meski ujung menutupmu, tak pernah berani kusentuh. Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu, indahmu kau pertaruhkan. Mungkin kau tak peduli tapi kau hanya akan menjadi wanita biasa dihadapanku bila kau kalah, tak lebih dari wanita biasa.

Wanita suci

Jangan pernah kau tatapku penuh bahkan kau tak perlu lirikan matamu untuk melihatku. Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang manipulator. Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas, meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari kubangan Lumpur, kau memang suci tetapi masih sangat mungkin kau termanipulasi. Karena toh kau hanya manusia, hanya wanita meskipun kau wanita suci.

Wanita suci

Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang sepenuh diri membawamu pada Tuhanmu. Untuknya dirimu ada, itu kata otakmu. Terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi tunggu sang lelaki suci menjemputmu dalam rangkaian khitbah dan akad, atau kejar sang lelaki suci, itu adalah hakmu seperti yang dicontohkan ibunda Khodijah. Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua ada dalam kitab suci.

Wanita suci

Bariskan harapanmu pada istikhoroh sepenuh arti ikhlas, relakan Tuhan pilihkan lelaki suci bagimu mungkin sekarang atau nanti, bahkan tak ada sampai kau mati. Mungkin itu, bagimu terlalu suci untuk semua lelaki di alam permainan saat ini. Mungkin lelaki suci itu menantimu di Istana kelak, yang kau bangun dengan seluruh kekhusyu’an ibadah.

Wanita suci

Pilihan Tuhan selalu tak seindah inginmu, tapi itulah pilihanNYA. Tak ada yang lebih baik dari pilihan Tuhan. Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki terpilih itu, melainkan pada jalan yang kau pilih itu. Seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu yang meminta keIslaman sebagai mahar pernikahan. Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan sang Kekasih tertinggi, Kekasih tempat kita seharusnya memberi semua cinta. Dan menerima cinta yang tak terhingga dalam tiap detik hidup kita.

Dari : pujangga awam kepada semua wanita suci sebagai tausiyah

Selasa, 23 Februari 2010

Hakikat Hidup

0 komentar
Hakikatnya hidup ini merupakan proses belajar dan menempa diri agar senantiasa menjadi lebih baik. sungguh, begitu banyak hal yang dapat disarikan dari perjalanan detik demi detik kehidupan kita. hal-hal yang kita reasakan, kita lihat, kita dengar, kita keluarkan melalui lisan, semuanya bisa menjadi sesuatu yang sarat makna dan dapat memperkaya khazanah pengalaman kita untuk selanjutnya dijadikan modal bagi proses perbaikan diri, jika kita mau tentunya.

ketika peristiwa-peristiwa yang kita temui atau yang kita jalani lewat begitu saja, maka ia hanya akan menjadi masa lalu hampa, nilai yang tidak dapat memberikan pengaruh apa-apa. padahal jika kita mau sedikit saja menggali lebih dalam, mungkin tidak sedikit bekas-bekas berharga yang tertinggal disana. Sebagaimana halnya mutiara, sebelum ada yang mengeluarkannya dari cangkang sang kerang, tidak ada yang dapat merasakan keindahannya.

DAN DAKWAH MERUPAKAN JALAN BAGI PEJUANGNYA TUK TERUS MELANGKAH
KETIKA PENAT ADALAH SAAT HENTI SEJENAK PADA SUATU KISAH PERTEMUAN MENGAPA HARUS RAGU...

Saudaraku... semoga kita selalu dapat memetik pelajaran dari setiap langkah kita dan setiap apa yang kita baca pada lingkungan kita. Semoga kita senantiasa diberi kesempatan oleh ALLAH untuk dapat memanfaatkan waktu, guna mendapatkan ilmu dan barokah-NYA.

Kamis, 11 Februari 2010

SEBUAH MAKNA

0 komentar

SEBUAH MAKNA

Menunggu….

Lebih baik menungu, untuk mendapatkan orang yang tepat, orang yang dicintai dan mencintai

Ketimbang memaksa dan tergesa

Karena hidup ini terlalu singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah

Bunga mawar tak mekar dalam semalam, namun bisa layu dalam sedetik

Palestina tak dibangun dalam sehari, namun bisa hancur dalam sekejap

Pernikahaan tak dirajut dalam pertimbangan sesaat, namun bisa saja musnah, juga dalam sesaat

Menunggu….

Mempunyai suatu tujuan yang mulia dan misterius

Menguji keimanan dan ketaqwaan

Belajar sabar dan ridho

Suami yang di tunggu….tidaklah semulia Muhammad,

Tidaklah setaqwa Ibrahim, tidaklah setabah Ayyub,

Tidaklah segagah Musa, apalagi setampan Yusuf

Suami yang di tunggu hanyalah suami akhir zaman yang berusaha menjadi suami sholih

Kita pun….

Bukanlah khodijah yang sempurna menjaga aqidah dan akhlaknya

Bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara

Namun hanyalah istri akhir zaman, yang berusaha menjadi istri sholihah

Menunggu….

Membutuhkan pengharapan

Namun tetap menjanjikan hal yang tak dapat seorang pun membayangkan akan menjadi apa pada akhirnya bagi setiap hamba beriman, berbesar hatilah

Allah yang Maha Tahu, pasti punya alasan tersendiri yang sukar dimengerti

Percayalah, ketika Allah mengambil sesuatu, maka IA akan memberi yang lebih baik….

Pernikahan…..membuka tabir rahasia

Proses mencapainya terkadang merupakan perjalanan panjang

Untuk menuju kesana, Allah Yang Maha Bijaksana

Seringkali justru memberi segala bentuk kesusahan

Untuk menguji hambaNYA, tentunya

Tak jarang sampai terluka hati, hingga hikmahnya tertanam dalam

Tak perlu bertanya, “Apa maksud Allah?”

Pernikahan….bukanlah akhir perjalanan

Pernikahan mengajarkan kewajiban bersama

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan

Jika ingin berenang, belajarlah mengapung

Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai

Mari, kembali kepadaNYA

Allah Maha Agung, yang dengan segala keAgunganNYA menuntut hamba untuk sabar dalam penantian

Untuk sebuah alasan….Entah apa….

Tapi yakinlah,

Allah merencanakan kehidupan hambaNYA dengan indah

Begitu indah dan amat sangat indah

Dengan segenap cinta karena Allah